Apa Saham Bisa Terbang Sendiri? Ini Jawabannya

0
Ilustrasi perdagangan saham (netralnews)

Jakarta, Marketmover – Saham PT Bank BJB Tbk (BJBR) merupakan salah satu daftar portofolio Jiwasraya yang disebut-sebut saham yang kurang berkualitas. Padahal, Bank BJB memiliki aset Rp 123 triliun, liabilitas Rp 113 triliun, ekuitas Rp 10 triliun, dan membukukan keuntungan bersih Rp 1,13 triliun per September 2019.

“Apakah profil seperti ini masuk dalam kategori saham gorengan? Saya kira BJB tidak bisa dibilang perusahaan abal-abal, karena secara fundamental ada isinya. Dengan kapitalisasi pasar Rp 11,12 triliun, BJB tidak bisa dipandang sebelah mata,” kata Vier Abdul Jamal, trader saham senior di Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Pertanyaannya, kata dia, adalah kenapa saham BJBR tidak bisa terbang sendiri, padahal fundamentalnya bagus? Apakah semua saham harus digoreng? Secara sederhana, dia menuturkan, saat melantai di bursa, perusahaan menjual 30% saham ke publik yang disebut free float. Adapun dan jenis saham tersebut adalah tradable share atau bisa diperdagangkan di pasar skunder.

Perdagangan saham, kata dia, bisa dikatakan semu, jika terjadi transaksi jual beli, tetapi tidak terjadi perpindahan kepemilikan. Contoh si Polan dari sekuritas A menjual kepada diri sendiri di sekuritas B. Ini perdagangan semu dan mengakibatkan terbentuknya harga di pasar. “Tetapi, jika jual belinya terjadi secara alami di pasar sekunder, itu wajar saja,” kata dia.

Jadi, dia menerangkan, saat IPO, BJB menjual saham ke publik dan selanjutnya terjadi transaksi saham ini oleh pedagang besar, menengah, kecil, dan ritel dengan dua tujuan, yakni dividen dan capital gain.

Mengacu hukum ekonomi, dia menganggap, tidak ada orang mau beli saham dan disuruh duduk diam menunggu keajaiban saham tersebut naik sendiri. Adapun menunggu dividen masih belum pasti.

Pada titik ini, dia menerangkan, dimulailah transaksi di pasar sekunder. Jika ada kecocokan harga pada bid/offer, terjadilah jual beli, yang mengakibatkan ada untung dan rugi. Di sini, masing-masing pedagang mulai mengatur strategi dengan konsep hukum dagang murni. Itu artinya, dia menegaskan, ada yang untung dan rugi, layaknya dalam bisnis apapun. Hanya saja, waktu dan frekuensinya cepat sekali, dengan jutaan taktik dagang tingkat dewa.

“Inilah seni dan kreativitas dagang di lantai bursa. Bahkan, teman sebangkupun bisa jadi musuh terselubung. Dia bilang beli, padahal dia sedang pasang jual, lalu diborong sama teman sebelahnya,” tegas dia.

Bagi pelaku pasar, dia menuturkan, ini merupakan dinamika pasar dan sudah biasa. Bahkan, sesama bandar besar saling makan di pasar. Pelaku pasar tidak ada dendam atau marah, jika kalah. Sebab, mereka sadar sekali, sulit sekali mengalahkan bandar. Akan tetapi, kita bisa mengalahkan ketamakan yang ada dalam diri kita sendiri untuk menjadi pemenang dalam transaksi saham.

Lalu, dia menegaskan, apa bedanya bandar judi dan saham? Jika Anda bersepuluh main judi, yang menang hanya satu orang, yaitu bandar. Tidak ada juara dua, tiga, dan juara harapan. Tetapi di saham, ada ratusan orang yang menang dan ratusan yang kalah. Penentunya, kata dia, adalah Anda sendiri dengan tamak dan takut. Apalagi, kebanyakan trader saham di Indonesia itu punya mental berani rugi takut untung.

“Inilah kunci kenapa bandar selalu untung. Sebab, saat anda takut, mereka ciptakan kenyamanan dan saat anda tamak, mereka mengambil keuntungan dari ketamakan itu,” kata dia.

Lalu, bagaimana supaya tetap untung ? Tahu diri saja dengan modal sendiri. Kalau modal Rp 10 juta, untung Rp 30 juta masih belum puas juga, siap-siap Anda jadi tumbal saat diguyur habis oleh bandar.

Selama berdagang saham, dia mengaku tak pernah merasa ditipu oleh bandar atau dizalimi siapapun. Sebab, dia sadar, dalam prospektus Bap 6 (Faktor Resiko) tertulis, dengan membeli saham ini, Anda beresiko kehilangan sebagian/seluruhnya dari investasi anda. Sebaliknya, saat untung, tidak harus bagi-bagi ke siapapun. Dengan demikian, bermain saham murni menjadi risiko sendiri.

“Kalau tidak mau diguyur bandar, jualan rokok saja, seperti Dudung di depan kantor saya, paling diguyur hujan,” celoteh dia.

Dia menganggap menyalahkan orang lain tidak akan menjadikan Anda sukses di pasar saham. Sebab, menjadi stock trader harus punya mental petarung, bukan mental cengeng, karena ini dunia kapitalis. (mm2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here