IKAI Terus Melorot, Intikeramik Berbenah

0
Ilustrasi PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (foto: intikeramik.com)

Jakarta, Marketmover – PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (Intikeramik) mengaku terus menggenjot kemampuan memproduksi keramik lewat penambahan jumlah kapasitas produksi. Upaya itu salah satunya dengan melakukan akuisisi terhadap perusahaan sejenis.

“Sampai akhir September 2019, perusahaan terus meningkatkan produksi keramik melalui anak perusahaan yaitu, PT INKA. Perusahaan juga berencana meningkatkan kegiatan pemasaran produk Essenza untuk memperkuat pangsa pasar,” jelas manajemen PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk, dalam siaran pers, di Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Manajemen juga menuturkan, penguatan pangsa pasar ditopang oleh kapasitas produksi tahunan yang mencapai 4,5 juta meter persegi (m2) dan didukung oleh program intensif pemerintah yang fokus pada pembangunan infrastruktur dan perumahan. Kedepannya, Intikeramik memperluas bisnis keramik.

“Dalam mewujudkan pertumbuhan jangka panjang perusahaan, IKAI memiliki rencana untuk melakukan akuisisi strategis melalui anak perusahaannya, dengan tujuan meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 8 juta m2 per tahun. Dengan sinergi ini, perusahaan mengantisipasi untuk menghimpun 30% pasar domestik untuk produk granitnya,” papar manajemen Intikeramik.

Di sisi lain, perusahaan berkode saham IKAI ini sejak 29 Mei 2019, menambahkan industri perhotelan (akomodasi dan penyediaan makan minum, dan real estat) ke dalam kegiatan bisnis mereka. Perusahaan telah melakukan kegiatan usaha ini melalui anak perusahaannya seperti PT Realindo Sapta Optima (RSO) dan PT Mahkota Properti Indo Medan (MPIM). Selain itu, PT Mahkota Artha Mas (MAM), yang diakuisisi pada awal 2018 dan telah memulai proses pembangunan hotel pada pertengahan 2018.

Per 30 September 2019, pendapatan Intikeramik melonjak 2.178% dibandingkan dengan periode sama 2018, yakni dari Rp 2,51 miliar menjadi Rp 57,21 miliar. “Pencapaian ini terutama didorong oleh kinerja yang solid dari pendapatan unit usaha hotel yang baru diakuisisi perusahaan akhir 2018,” kata manajemen Intikeramik.

Pada periode itu, pendapatan lini hotel menyentuh Rp 55,85 miliar atau berkontribusi sekitar 98% terhadap total pendapatan.

Menurut manajemen Intikeramik, adanya program pemerintah untuk mengembangkan sektor perhotelan (akomodasi, penyedia jasa makanan dan minuman), perseroan melihat potensi yang cukup besar untuk terus melakukan pengembangan berkelanjutan dalam rangka mendukung program pemerintah.

Per 30 September 2019, Intikeramik merugi sekitar Rp 58,22 miliar, padahal pada periode sama 2018 masih mengantongi laba Rp 40,94 miliar.

 

Harga Saham

Sementara itu, saham IKAI anjlok 29,72% sepanjang 2-24 Januari 2020, yakni dari Rp 74 menjadi Rp 52.

Terkait pergerakan harga saham perusahaan, kata manajemen Intikeramik, meskipun terjadi tekanan sehingga harga saham jatuh, momentum dasar terus menyediakan sisi atas yang kuat, oleh karena itu terdapat peluang yang lebih tinggi untuk memicu naiknya pergerakan harga saham kedepannya. Fakta membuktikan bahwa asumsi ini dapat dilihat di pasar setelah dua hari harga saham berada di level Rp50, terjadi kenaikan harga saham yang signifikan sekitar 15 poin sebelum menetap di harga Rp55. “Untuk investor publik, ini adalah keuntungan tersembunyi dan harus dimasukkan sebagai bahan pertimbangan ke dalam penilaian perusahaan,” papar manajemen Intikeramik.

Oleh karena itu, kata manajemen Intikeramik, pihaknya tetap percaya diri untuk mempertahankan sikap positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan perusahaan pada masa mendatang. “Perusahaan akan terus meningkatkan kinerja fundamentalnya, yang akan tercermin dalam penilaian perusahaan ke depan,” tutur manajemen Intikeramik. (mm1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here