Mengenang Tokoh Pendidikan Maritim Indonesia

0
Tokoh Pendidikan Maritim Indonesia, Capt. Mek Slamet Wibowo, 93 tahun, dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (22/1/2020). (Foto Samudranesia.id)

Jakarta, Marketmover –  Dunia maritim Tanah Air telah kehilangan  tokoh pelaut Indonesia sekaligus perintis dari Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) yang sekarang bernama Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Capt. Mek Slamet Wibowo, 93 tahun, direktur AIP kedua setelah Hendri P Kalangie, telah menghembuskan nafas terakhirnya di RS Premier Bintaro, Selasa (21/1/2020), pukul 17.56 WIB.

Jenazah yang disemayamkan di rumah duka Jalan Punai 3 Blok T8 No. 4 Sektor 2 Bintaro Jaya, Tangerang Selatan 15412 itu telah dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (22/1/2020).

“Beliau adalah sosok senior yang mempunyai dedikasi dan perhatian di dunia pendidikan maritim dalam dan luar negeri. Beliau mampu menjadikan AIP cukup disegani di kancah dunia,” jelas Vier Abdul Jamal, lulusan STIP di Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Vier tidak asing dengan dunia maritim. Dia dibesarkan di lingkungan keluarga pelaut.  Tamat dari Pendidikan dan Latihan Ahli Pelayaran (kini STIP) pada 1993, Vier yang mendapat julukan The Shark itu memulai kariernya di dunia perkapalan sebagai ahli mesin kapal. Dia pun sempat berkerja di Nippon Yusen Kaisha, Pelni, dan terakhir di kapal tambang minyak Marathon Petroleum sampai 1997.

Kenangan Vier terhadap almarhum Capt. Mek Slamet Wibowo tak pernah hilang. Semasa hidupnya, almarhum merupakan tokoh penting dalam dunia pendidikan kemaritiman Indonesia. Dedikasinya dalam mencetak SDM pelaut unggul bangsa Indonesia lewat AIP tak bisa dianggap sebelah mata.

Seperti dilansir dari Samudranesia.id, sejak berdiri pada 27 Februari 1957, AIP banyak menorehkan tinta emas bagi dunia maritim Indonesia. Pada awal berdirinya, lembaga pendidikan bermotto Nauyanam Avasyabhavi Jivanam Anavasyabhavi  itu dipimpin oleh Hendri P Kalangie, seorang pelaut Indo Belanda yang banyak terlibat dalam dunia pendidikan pelaut era Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.

Dua tahun memimpin lembaga pendidikan yang bertempat di Gunung Sahari, Ancol tersebut akhirnya tampuk kepemimpinan berganti kepada Capt. Mek Slamet Wibowo. Dia merupakan pelaut Indonesia yang pernah dikirim ke Kingspoint Academy, AS untuk menimba ilmu. Di bawah besutanya, AIP menjelma menjadi lembaga pendidikan yang semakin berkelas internasional.

Meneruskan kerja sama oleh direktur sebelumnya, Capt. Mek Slamet Wibowo juga melakukan pengiriman kadetnya ke Kingspoint Academy dan US Merchant Marine. Capt. Mek Slamet Wibowo sendiri merupakan pelaut yang di era perang kemerdekaan sempat menjadi Kadet di Sekolah Angkatan Laut (SAL) Tegal.

Di bawah binaan Komandan SAL Laksamana III Adam, wakil Komandannya Letkol R.S.Hadiwinarso, dan perwira 1 Mayor EHThomas dan Kepala Pendidikan adalah Koen Djaelani, Capt. Mek Slamet Wibowo muda turut berperang mempertahankan kedaulatan NKRI.

Agresi Militer 1

Pada 21 Juli 1947 saat terjadi Agresi Militer 1 oleh Belanda memaksa SAL-Tegal keluar dari kota Tegal dan bertempur dengan Belanda yang bertugas di front Banjarnegara dan front Parangtritis. Capt. Mek Slamet Wibowo minta kepada Laksamana Adam agar siswa yang di Yogyakarta dipindahkan untuk berperang di Banjarnegara.

Ilustrasi Agresi Militer Belanda I (Foto Tirto.id)

Selesai berperang kembali ke AL Yogyakarta namun tidak diberi kantor. Kemudian para siswa itu dilanjutkan ke Jakarta dengan ditambah Tentara Pelajar untuk mengikuti kursus maritim di Sekolah Kader Pelaut-SKP yang diprakarsai oleh Mas Pardi di Jalan Dr Soetomo.

Dia pun lulus sebagai Mualim III dan meneruskan kariernya di TNI-AL sampai sekolah Seskoal angkatan III dan berpangkat sebagai mayor Wamil dan sempat bekerja di Gunung Sahari 67 (sekarang Armada I-Guspurla). Bahkan, dia pernah dikirim ke Papua dalam rangka membangun institusi maritim di sana salah satunya pembuatan Syahbandar di Manokwari, Sorong, Biak, Merauke dan Jayapura serta ikut membantu persiapan operasi Trikora.

Selesai dari itu, Capt. Mek Slamet Wibowo kembali berkarier di Djawatan Pelayaran sampai dengan Mualim I dan diangkat sebagai Direktur Akademi Ilmu Pelayaran periode 1959-1962.

Bedasarkan wawancaranya dengan Kasubdisjarah Dispenal Kolonel Laut (P) Ronny Turangan pada 2016, Capt. Mek Slamet Wibowo banyak menceritakan mengenai perjalanan hidupnya semasa di SAL dan kisah berdirinya AIP hingga dia menjadi Direktur AIP.

Menurutnya ada 11 kader pelaut yang ditempa di Sekolah Kader Pelaut (SKP), di antaranya Sardana Suharja, Otto Karlio, Amin Nyar untuk koprs Nautika. Sedangkan koprs Teknik salah satunya adalah Iwan Akhir. Mereka semua dididik oleh Mas Pardi (pendiri BKR Laut dan mantan Kepala Djawatan Pelajaran) dan JP Nieborg.

Seiring berjalannya waktu, SKP kemudian berada di bawah naungan Badan Diklat Perhubungan Republik Indonesia. Hingga 1953 bertransformasi menjadi Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta yang oleh pemerintah kemudian dibangun gedung baru di Jl Gunung Sahari, Ancol (Gedung ini menjadi cikal bakal AIP).

Mas Pardi pun bertindak sebagai peletak batu pertama dalam pembangunan gedung tersebut pada 22 Desember 1952 dan batu terakhir pada 17 Maret 1955. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki dari gedung baru ini antara lain ruang kelas, asrama dengan kapasitas 392 kadet, lapangan bola, tenis, kolam renang serta perumahan untuk direktur dan staf pengajar, instruktur bahari dan teknik serta staf rumah tangga.

Kingspoint Academy

Dia menceritakan kerja sama dengan Kingspoint Academy saat itu merupakan hasil hubungan yang erat dengan Kedubes AS di Indonesia. Beberapa taruna/kadet AIP yang dikirim ke Amerika Serikat berkesempatan menimba ilmu di Kingspoint Academy.

Kingspoint Academy (Foto gCaptain)

Selama menjadi Direktur AIP, dia kerap mengadakan kerja sama pendidikan maritim dengan Amerika Serikat yang diwakilkan oleh Profesor Raymond Eisenberg sebagai ketua untuk mengefektifkan AIP. Kemudian Eisenberg menunjuk Profesor C.L Souebier sebagai ketua Departemen Mesin. Selain itu ada Kolonel O.Carlson serta Letkol Jhon.H.Ladage sebagai ketua Departemen Nautika.

Pada 1959, tiga instruktur bergabung di antaranya Letkol Myron Thomas dan Profesor Michael Bishansky sebagai pengajar steam engineering/mesin uap. Selanjutnya ada Profesor Edward Low dan Wen Berger yang mengajar mesin diesel. Mereka mengajar selama enam bulan.

Menurut ulasannya, AIP saat itu memiliki 11 pengajar dari US Merchant Marine. Capt. Mek Slamet Wibowo juga mengusulkan program sekolah tiga tahun menjadi empat tahun dengan rincian teori tiga tahun dan proyek laut satu tahun.

Praktik laut sudah tidak lagi di kapal latih MV Bimasakti, tapi dimasukan dalam perusahan-perusahan pelayaran selama satu tahun. Menurut Wen Berger pola ini yang cocok untuk pendidikan maritim di Indonesia. Karena dengan seperti itu, pengenalan kadet terhadap praktik pelayaran dalam bidang perniagaan berlangsung cepat.

Jejak kenangan itu kini telah menjadi bekal berharganya menghadap Sang Pencipta. Capt Mek Slamet Wibowo telah tiada, namun prestasi dan semangatnya tetap hidup selama Indonesia masih memiliki lautan. Selamat Jalan Capt Mek Slamet Wibowo. (mm3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here