Bhakti Agung Jajaki Right Issue

0
Proyek Apartemen Green Cleosa, Ciledug, Tangerang Kota (foto: istimewa)

Jakarta, Marketmover – PT Bhakti Agung Propertindo Tbk (Bhakti Agung) dikabarkan tengah menjajaki sejumlah aksi korporasi guna mendulang sumber pendanaan. Kini, pengembang properti itu juga dalam tahap negosiasi penyelesaian utang dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).

Menurut Direktur Utama PT Bhakti Agung Propertindo Tbk Agung Hadi Tjahjanto , setelah dana dari penawaran perdana umum saham (initial public offering/IPO) digunakan untuk pembelian lahan baru, ada beberapa cara perseroan dalam memenuhi modal kerja yang digunakan untuk menyelesaikan proyek Apartment Green Cleosa, Ciledug, Tangerang Kota. Antara lain, menggunakan fasilitas piniaman yang masih dapat digunakan sesuai dengan progress pembangunan di lapangan. Lalu, dari realisasi penjualan unit apartemen/kios. Baik secara kredit pemilikan rumah (KPR) maupun cara pembayaran lainnya.

“Kami juga menjajaki sumber pendanaan perusahaan melalui aksi korporasi antara lain menerbitkan medium term note (MTN), konversi warrant, ataupun right issue,” jelas dia, dalam suratnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (14/2/2020).

Di sisi lain, jelas dia, dalam hal pembayaran utang ke BTN yang disyaratkan sebesar 20% dari nett hasil IPO, perseroan belum dapat memenuhi hal tersebut. Perseroan telah melakukan komunikasi intens dengan BTN terkait hal tersebut. Tanggapan dari BTN adalah menawarkan solusi berupa sertifikat tanah tersebut disimpan oleh BTN sebagai tambahan jaminan atas pinjaman PT Bhakti Agung Propertindo Tbk.

“Terkait hal tersebut, perseroan telah mengajukan surat permohonan ke BTN untuk dilakukan menghiIangkan persyaratan pembayaran 20% tersebut,” jelas dia.

Bhakti Agung sebelumnya mengaku bahwa sekitar Rp 242,60 miliar dana hasil IPO diserap untuk modal kerja perseroan. Angka itu setara dengan sekitar 98% dari dana bersih hasil IPO.

“Realisasi penggunaan dana IPO untuk modal kerja Rp 242,60 miliar dan pembayaran bank Rp 3,72 miliar,” jelas Agung Hadi.

Dia menjelaskan, dari IPO, pihaknya memperoleh Rp 251,62 miliar, namun setelah dikurangi biaya-biaya, yakni Rp 5,03 miliar, maka hasil bersihnya Rp 246,58 miliar. Rencananya, sekitar Rp 49,31 miliar untuk pembayaran ke bank dan Rp 197,27 miliar untuk modal kerja. “Sisa dana IPO Rp 262,99 juta,” ujar dia.

Mengutip laporan keuangan perseroan, emiten berkode saham BAPI ini mengantongi pendapatan Rp 12,56 miliar per 30 September 2019. Angka itu naik 329% dibandingkan periode sama 2018 yang tercatat sebesar Rp 2,93 miliar. Perseroan mampu mengantongi laba bersih Rp 1,00 miliar, padahal pada periode sama masih merugi Rp 281,67 juta. (mm1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here