Sampoerna Agro Terbitkan Surat Utang Rp 600 Miliar

0
Ilustrasi PT Sampoerna Agro Tbk (foto: sampoernaagro.com)

Jakarta, Marketmover – PT Sampoerna Agro Tbk berencana menerbitkan surat utang senilai total Rp 600 miliar. Surat utang itu terdiri atas Obligasi Berkelanjutan I Sampoerna Agro Tahap I Tahun 2020 senilai Rp 300 miliar dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Sampoerna Agro Tahap I Tahun 2020 senilai Rp 300 miliar.

Mengutip prospektus perseroan yang dilansir Rabu (26/2/2020), untuk obligasi terdiri atas dua seri, yaitu Obligasi Seri A dan Obligasi Seri B. Seri A  sebesar Rp 208,50 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 9,35% per tahun, berjangka waktu tiga tahun. Lalu, Seri B  sebesar Rp 91,50 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 9,75% per tahun, berjangka waktu lima tahun.

“Bunga obligasi dibayarkan setiap triwulan sejak tanggal emisi. Bunga obligasi pertama akan dibayarkan pada 3 Juni 2020 sedangkan bunga obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo obligasi akan dibayarkan pada 3 Maret 2023 untuk Obligasi Seri A, dan 3 Maret 2025 untuk Obligasi Seri B,” tulis prospektus tersebut.

Sementara itu, untuk Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Sampoerna Agro Tahap I Tahun 2020 dengan sisa imbalan ijarah sebesar Rp 300 miliar juga terdiri atas dua seri. Pertama, Seri A  sebesar Rp 175,00 miliar dengan cicilan imbalan ijarah sebesar Rp 16,36 miliar per tahun, berjangka waktu tiga tahun. Lalu, Seri B  sebesar Rp 125,00 miliar dengan cicilan imbalan ijarah sebesar Rp 12,18 miliar per tahun, berjangka waktu lima tahun.

Cicilan imbalan ijarah dibayarkan setiap triwulan sejak tanggal emisi, dimana cicilan pertama akan dibayarkan pada 3 Juni 2020. Lalu, cicilan terakhir sekaligus tanggal pembayaran kembali sisa imbalan ijarah akan dibayarkan pada 3 Maret 2023 untuk Sukuk Ijarah seri A dan 3 Maret untuk Sukuk Ijarah Seri B.

Rencananya surat utang itu dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 4 Maret 2020, sedangkan tanggal emisi pada 3 Maret 2020.

Sementara itu, penggunaan dana dari penerbitan obligasi mencakup sekitar 65% untuk melakukan pelunasan lebih awal sebagian pokok utang bank milik PT Telaga Hikmah (TH), anak usaha dan biaya terkait yang timbul dari pelunasan lebih awal. Lalu, sekitar 35% untuk membiayai kebutuhan modal kerja perseroan.

Sedangkan dana yang diperoleh dari Penawaran Umum Sukuk Ijarah seluruhnya untuk melunasi sisa pokok pinjaman bank milik TH yang telah dibayarkan sebagian melalui penerbitan obligasi.

Sementara itu, per 30 September 2019, Sampoerna Agro harus puas membukukan penurunan laba cukup dalam. Padahal, penjualan perusahaan berkode saham SGRO itu hanya turun tipis 0,87%.

Akhir September 2019, penjualan Sampoerna Agro sebesar Rp 2,26 triliun, sedangkan pada periode sama 2018 sebesar Rp 2,28 triliun. Namun, peningkatan beban pokok penjualan dari Rp 1,68 triliun menjadi Rp 1,87 triliun serta merta menggerus laba kotor dari Rp 601,58 miliar menjadi Rp 393,76 miliar.

Di sisi lain, biaya keuangan yang meningkat sekitar 19% (year on year/yoy), per 30 September 2019, yakni dari Rp 156,04 miliar menjadi Rp 186,36 miliar mempengaruhi torehan laba bersih Sampoerna Agro. Laba periode berjalan perseroan anjlok sekitar 90%, yakni dari Rp 174,67 miliar menjadi Rp 18,13 miliar.

Sementara itu, perdagangan saham SGRO terkoreksi 5,83% pada perdagangan Selasa (25/2/2020), yakni dari Rp 2.400 menjadi Rp 2.260. (mm1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here