Bogor Bakal Sumbang 10% Presales Summarecon

1
Proyek hunian tapak Summarecon Mutiara Makassar (foto: PT Summarecon Agung Tbk)

Jakarta, Marketmover – Proyek kota terpadu (township) di Bogor, Jawa Barat digadang-gadang bakal menyumbang 10% terhadap prapenjualan (presales) tahun 2020 PT Summarecon Agung Tbk (Summarecon). Proyek tersebut menjadi kota terpadu ketujuh yang dikembangkan Summarecon di Indonesia dan yang keempat di Jawa Barat.

Keenam proyek kota terpadu Summarecon yang lebih dulu dikembangkan tersebar di Jakarta (Summarecon Kelapa Gading) dan Banten (Summarecon Serpong). Lalu, tiga di Jawa Barat (Summarecon Bekasi, Summarecon Bandung, dan Summarecon Karawang). Selain itu, di Sulawesi Selatan (Summarecon Makassar).

“Perusahaan dengan ambisius menargetkan Bogor untuk berkontribusi 10% (Rp 430 miliar) dari total prapenjualan pada 2020,” tulis riset CLSA yang dilansir, baru-baru ini.

Di proyek itu, masih dari riset tersebut, Summarecon mengusung rumah tapak (landed house) yang dibanderol Rp 1 miliar per unit. Level harga itu tergolong memikat untuk sebuah produk properti dengan harga tanah yang dinilai terjangkau, yakni berkisar Rp 6-7 juta per meter persegi (m2). Per 30 September 2019, Summarecon memiliki 421,70 hektare (ha) yang belum dikembangkan di Bogor.

Tahun ini, Summarecon dikabarkan mematok pertumbuhan prapenjualan sekitar 9% dibandingkan dengan 2019, yakni dari Rp 4,1 triliun menjadi Rp 4,5 triliun. Bila terwujud, angka itu hampir mendekati torehan tertinggi prapenjualan perseroan pada 2014, yakni Rp 4,6 triliun.

Menurut CLSA, Summarecon memiliki rekam jejak yang baik ketika pertamakali meluncurkan kota-kota baru. Sebut saja manakala pertama kali meluncurkan proyek Bandung (400 unit terjual 100%), Karawang (340 unit 87% terjual) atau Makassar (175 unit terjual 75%).

Sementara itu, Summarecon mengisyaratkan punya pemasukan dari penjualan yang cukup baik pada Januari 2020, yakni sekitar Rp 300 miliar. Angka itu didorong oleh penjualan dari pengembangan klaster perumahan dan inventaris. “Tetapi, angka itu lebih lambat dari Januari 2019 yang sebesar Rp 450 miliar,” tulis riset CLSA. (mm1)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here