Kilau MDKA Tak Sekinclong Fundamental

0
PT Merdeka Copper Gold Tbk (foto: merdekacoppergold.com)

Jakarta, Marketmover – Tampaknya bisnis emas PT Merdeka Copper Gold Tbk (Merdeka Gold) masih cukup kinclong pada 2019. Penjualan dan laba bersih emiten berkode saham MDKA ini melesat. Namun, MDKA ternyata tak sekinclong fundamentalnya.

Pada 2019, perusahaan yang 19,74% sahamnya dikuasai PT Saratoga Investama Sedaya Tbk ini mencatat lonjakan penjualan 37%, yakni dari US$ 293,88 juta menjadi US$ 402,03 juta.

Bukan cuma di pasar lokal, penjualan ekspor pun terlihat melejit. Di pasar ekspor, melonjak 36% dari US$ 286,62 juta menjadi US$ 389,44 juta. Bahkan, di pasar domestik meroket 154% menjadi US$ 23,64 juta dari US$ 9,30 juta.

Buntutnya, laba bersih Merdeka Gold, pada 2019 dibandingkan 2018, melompat 35%, yakni dari US$ 52,48 juta menjadi US$ 70,82 juta.

Pada 2019, kas dan bank Merdeka Gold menggelembung 252% menjadi US$ 49,59 juta dari semula US$ 14,08 juta. Sedangkan ekuitas perseroan Melompat ke US$ 524,24 juta dari semula US$ 422,15 juta. Di sisi lain, liabilitas naik dari US$ 375,65 juta menjadi US$ 427,00 juta.

Mengutip laman perseroan, Merdeka Gold didirikan pada 2012 sebagai perusahaan induk yang memiliki lima anak usaha operasional yang bergerak di bisnis pertambangan mencakup meliputi kegiatan eksplorasi dan nantinya kegiatan produksi emas, perak dan tembaga, serta mineral pengikut lainnya. Selain itu, memiliki usaha di bidang jasa pertambangan. Kelima anak usaha Perusahaan tersebut adalah PT Bumi Suksesindo (BSI) yang memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi tertanggal 9 Juli 2012, PT Damai Suksesindo yang memegang IUP eksplorasi tertanggal 10 Desember 2012, dan PT Cinta Bumi Suksesindo. Selain itu, PT Beta Bumi Suksesindo dan PT Merdeka Mining Servis.

Per 31 Desember 2019, pemegang saham perseroan terdiri atas PT Saratoga Investama Sedaya Tbk 19,74%, PT Mitra Daya Mustika 13,47%, Garibaldi Thohir 8,95%, PT Suwarna Arta Mandiri 7,17%, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi 5,23%. Lalu, Sakti Wahyu Trenggono 2,22%, Hardi Wijaya Liong 0,54%, Gavin Arnold Caudle 0,05%, Richard Bruce Ness 0,02%, Tri Boewono 0,02%, Heri Sunaryadi 0,02%, dan masyarakat 42,57%.

Sementara itu, MDKA tak sekinclong fundamental. Pada perdagangan Jumat (20/3/2020) ditutup melemah 6,28%, yakni dari Rp 1.035 menjadi Rp 970. Bahkan, sepanjang 2 Januari-20 Maret 2020, MDKA melemah 9,34%, yakni dari Rp 1.070 menjadi Rp 970. (mm1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here