Operasional dan Keuangan PTPP Dihantui Teror Korona

0
PT PP (Persero) Tbk (Foto Istimewa)

Jakarta, Marketmover – PT PP (Persero) Tbk yang memiliki kode saham PTPP itu mengaku terkena dua dampak dari kondisi perekonomian regional dan global yang mengalami perlambatan. Pertama, kegiatan operasional terganggu. Dan, kedua, kondisi keuangan perseroan berpotensi turut terdampak.

Sekretaris Perusahaan PT PP (Persero) Tbk, Agus Samuel Kana, menjelaskan, dari sisi kegiatan operasional, proses pengadaan barang impor terhambat, terutama dari negara yang terserang pandemi korona Covid-19. Solusinya, perseroan berusaha mencari alternatif impor dari negara lain.

“Kekhawatiran lain adalah apabila opsi lockdown diberlakukan pada suatu daerah, pelaksanaan proyek pada daerah tersebut tertunda atau berhenti sementara. Langkah perseroan adalah melakukan kajian kontrak supaya masuk dalam kategori kejadian force majeure,” ujar Agus Samuel Kana dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, belum lama ini.

Ancaman lain terhadap kegiatan operasional PTPP, kata Agus Samuel Kana, adalah adanya potensi kelangkaan sumber daya manusia (SDM) dan material akibat adanya kebijakan lockdown. “Kami berusaha mengantisipasinya dengan melakukan kajian kontrak agar masuk dalam kejadian force majeure,” tutur dia.

Agus Samuel Kana menambahkan, kondisi keuangan perseroan pun berpotensi terkena dampak. Surplus cashflow, menurut Agus Samuel Kana, tidak sesuai target sebagai akibat dampak dari kendala operasional berdasarkan kebijakan pemerintah. Perseroan berusaha melakukan penyesuaian realisasi cashflow.

Penjualan dan laba, kata Agus Samuel Kana, juga tidak sesuai target lantaran kendala operasional. Solusinya, perseroan telah melakukan optimalisasi proyek yang tidak terkena dampak. Bagi dunia usaha, Kondisi saat ini memang berat.

Pada 2019, PTPP harus puas membukukan penurunan laba sebesar 38%. Tahun lalu, PTPP mengantongi laba yang diatribusikan ke pemilik induk sebesar Rp 930,32 miliar, padahal setahun sebelumnya masih bercokol di Rp 1,50 triliun. Di sisi lain, pendapatan badan usaha milik negara (BUMN) ini turun tipis 2% pada 2019 dibandingkan 2018, yakni dari Rp 25,11 triliun menjadi Rp 24,65 triliun.

Kendala lain yang mengancam PTPP, kata Agus, adalah adanya potensi kenaikan biaya akibat melemahnya nilai tukar rupiah.  Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi terus menguat karena masih dibayangi ketidakpastian dari sisi eksternal mulai dari stimulus Amerika Serikat (AS), harga minyak dunia yang merosot tajam dan sampai pada masalah pandemi korona.

Nilai dolar AS di posisi Rp 17.000 bisa terjadi karena kepanikan pasar belum mereda. Apalagi, saat ini Bank Indonesia (BI) hanya bisa melakukan intervensi menggunakan instrumen domestic non deliverable forward (DNDF). Solusinya, PTPP telah bekerja sama dengan berbagai bank dan lembaga keuangan agar tingkat suku bunga optimum.

Sedangkan, mengenai menurunnya potensi pasar atas penerbitan surat berharga yang diterbitkan, perusahaan adalah melakukan review timeline penerbitan.

Harga saham perseroan, kata Agus Samuel Kana, dinilai undervalue sehingga tidak mencerminkan fundamental perusahaan. Langkah lain, perseroan melakukan pembelian kembali (buyback) saham.

Dalam perdagangan Senin (23/3/2020), harga saham PTPP turun 6,31%, dari harga Rp 555 merosot ke Rp 520. Sebanyak 14,70 juta saham ditransaksikan sebanyak 970 kali senilai Rp 7,65 miliar. PT PP (Persero) Tbk yang bergerak di bidang jasa kontruksi itu memiliki kapitalisasi pasar Rp 3,22 triliun. (mm1/mm3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here