Semen Indonesia Akui Terkena Dampak Covid-19

0
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (Foto Katadata)

Jakarta, Marketmover – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk mengaku terkena dampak dari perlambatan perekonomian global dan regional yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

“Secara langsung dan tidak langsung, Covid-19 memengaruhi kondisi dan kinerja perusahaan, antara lain penjualan dan supply chain, sebagai dampak dari lockdown China dan terhambatnya ekspor, serta potensi penundaan proyek-proyek, Perseroan memperkirakan penjualan tidak akan lebih baik dibandingkan tahun 2019,” jelas Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Vita Mahreyni dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (20/3/2020).

Dari sisi produksi, menurut Vita, proses produksi berpotensi mengalami perlambatan dan penurunan utilisasi. Dari sisi pengadaan barang, adanya potensi keterlambatan bahan baku dan suku cadang impor yang dapat memengaruhi proses produksi.

Lalu, dari sisi masalah keuangan, menurut Vita,  perseroan secara intensif melakukan pemantauan dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja operasional dan melakukan berbagai rencana tindakan untuk mengatasi dampak tersebut agar kinerja keuangan perseroan dapat tetap terjaga.

Pada 2019, emiten berkode saham SMGR ini membukukan laba bersih Rp 2,39 triliun, sedangkan setahun sebelumnya Rp 3,07 triliun. Saat itu, pendapatan Semen Indonesia tercatat melejit dari Rp 30,68 triliun menjadi Rp 40,36 triliun.

Otot Semen Indonesia masih bertumpu pada produk semen yang menyumbang 82% terhadap total pendapatan. Tahun 2019, pendapatan dari produk semen melonjak menjadi Rp 33,14 triliun dari semula Rp 25,72 triliun.

Mengutip laporan keuangan perseroan yang dilansir, Kamis (19/3/2020), terpangkasnya laba bersih lantaran sejumlah beban meningkat drastis, sebut saja misalnya beban umum dan administrasi yang naik dari Rp 2,32 triliun menjadi Rp 3,53 triliun. Lalu, beban keuangan melonjak menjadi Rp 3,20 triliun dari semula Rp 959,25 miliar.

Kondisi pasar saham yang terpuruk dan memukul harga saham secara umum juga merupakan imbas dari kondisi pandemi Covid-19. SMGR melorot 6,75% pada penutupan perdagangan Kamis (19/3/2020), yakni dari Rp 6.300 menjadi Rp 5.875. Sedangkan sepanjang 2 Januari 2020 hingga 19 Maret 2020, SMGR terpangkas 51,04%, yakni dari Rp 12.000 menjadi Rp 5.875.

“Perseroan terus berupaya untuk menjaga fundamental perusahaan dalam kondisi yang aman dan terkendali. Perseroan yakin kondisi ini tidak akan berlangsung lama, namun perseroan tetap siap siaga menghadapi segala perubahan yang mungkin akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan,” jelas Vita.

Kemudian, dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), menurut Vita, manajemen telah memberlakukan kebijakan work from home (WFH) bagi sebagian besar fungsi kerja perseroan. (mm1/mm3)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here