Wika Gedung Tidak Menerima Proyek Turnkey

0
Proyek Wika Gedung (foto: wikagedung.co.id)

Jakarta, Marketmover – Mulai tahun 2020, PT Wijaya Karya Bagunan Gedung Tbk (Wika Gedung) mengaku tidak mengambil proyek turnkey alias pembayaran di belakang. Langkah itu ditempuh sebagai mitigasi dari penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 yang berlaku mulai tahun 2020.

“Mitigasi risiko yang dilakukan perseroan atas dampak PSAK 71 adalah melakukan upaya perbaikan rasio perputaran piutang. Lalu, selektif dalam perolehan kontrak baru, dan tidak mengerjakan proyek turnkey,” jelas Boby Iman Setya, sekretaris perusahaan PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamias (5/3/220).

Sebelum ketentuan PSAK 71 itu diterapkan, manajemen Wika Gedung mengaku, mengambil proyek-proyek turnkey, tetapi dengan catatan tidak mempengaruhi cash flow perusahaan. Caranya, bekerjasama baik dengan lembaga keuangan maupun dengan lembaga non-keuangan.

Misalkan, ujar manajemen Wika Gedung dalam paparan public September 2019, jika ada projek turnkey pihaknya mendesain dengan lembaga keuangan atau lembaga non-keuangan untuk pembiayaan ataupun pembayaran dengan fasilitas turnkey juga. Dengan begitu, Wika Gedung tidak butuh modal kerja dan tetap membayar ke vendor dengan normal, tetapi kewajiban terhadap perbankan atau lembaga keuangan dijamin jatuh temponya sama-sama turnkey. Sehingga secara keuangan tidak akan mempengaruhi perusahaan. “Jadi ketika ada proyek turnkey memiliki peluang bagus maka akan kami ambil, dan kami lakukan mitigasi dengan baik,” sergah manajemen Wika Gedung.

Emiten berkode saham WEGE ini mengaku masih fokus pada bisnis konstruksi bangunan gedung dengan kelebihan memiliki beragam komposisi klien dari proyek swasta dan pemerintah serta BUMN. Semula, hingga 2017, klien perseroan hanya dari kalangan swasta. Namun, mulai 2018, kontribusi dari proyek pemerintah dan BUMN menyumbang 50% dari kontrak baru yang diraih Wika Gedun setiap tahunnya. “Dengan kekuatan tersebut perseroan diharapkan mampu menjaga pertumbuhan secara berkesinambungan,” jelas Bobby.

Di sisi lain, jelas dia, pada 2020, Wika Gedung juga mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk nenunjang kegiatan konstruksi internal maupun eksternal dengan rencana membangun pabrik untuk divisi modular. Selain itu, capex itu juga untuk penyertaan ke PT Wika Pracetak Gedung untuk pembangunan pabrik sehingga pertumbuhan bisnis perusahaan akan semakin dinamis.

Per 30 September 2019, pendapatan Wika Gedung melemah 13% dibandingkan dengan periode sama 2018, yakni dari Rp 3,86 triliun menjadi Rp 3,36 triliun. Sekalipun demikian, laba bersih perseroan naik 5%, dari Rp 288,74 miliar menjadi Rp 302,61 miliar.

Sementara itu, WEGE setelah diperdagangkan sebanyak 586 kali ditutup melemah 2,50% pada Jumat (6/3/2020), yakni dari Rp 232 menjadi Rp 226. Saat itu, nilai perdagangan WEGE mencapai Rp 1,74 miliar dari perdagangan 7,71 juta saham. (mm1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here