AirAsia Indonesia Terancam Delisting dari BEI

0
PT AirAsia Indonesia Tbk (Foto SINDOnews)

Jakarta, Marketmover – PT AirAsia Indonesia Tbk dengan kode saham CMPP sedang ketar-ketir lantaran terancam delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam keterbukaan informasi BEI, 13 Maret 2020, BEI pernah mengingatkan manajemen AirAsia Indonesia bahwa ada dua faktor yang bisa membuat AirAsia Indonesia delisting. Pertama, perusahaan mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha baik secara finansial atau secara hukum. Delisting dilakukan apabila perusahaan tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

Kondisi kedua yang bisa menghapus AirAsia Indonesia dari BEI adalah, sahamnya selama 24 bulan tidak diperdagangkan di pasar reguler dan tunai, hanya di pasar negosiasi. Saham AirAsia Indonesia sudah tujuh bulan tidak diperdagangakan di pasar reguler dan tunai karena disuspensi. Artinya, batas waktu 24 bulan akan terjadi pada 5 Agustus 2021.

“Perseroan memahami bahwa perseroan masuk ke dalam kondisi yang merujuk pada ketentuan III.3 Peraturan bursa No.I-I, yaitu bursa dapat melakukan delisting efek apabila Perusahaan tercatat mengalami sekurang-kurangnya satu kondisi seperti dijelaskan di atas,” kata Corporate Secretary  PT AirAsia Indonesia Tbk, Indah Permatasari Saugi dalam keterbukaan informasi BEI di Jakarta, 31 Maret 2020.

Pada kuartal III dan IV tahun 2019, menurut Indah, perseroan mulai membukukan pendapatan yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Pada akhir 2019, Perseroan telah meningkatkan kapasitas sebanyak 23% dengan menambah pesawat baru sehingga berdampak terhadap peningkatan pendapatan sebanyak 28%. Namun Perseroan memiliki kewajiban pembayaran pajak yang harus diselesaikan pada akhir 2019

Terganjal Covid-19

Namun, AirAsia Indonesia menyatakan, berbagai aksi korporasi tersebut terhambat karena adanya pandemi virus Covid-19. Pandemi ini menyebabkan penurunan jumlah penumpang pesawat udara di Indonesia termasuk AirAsia.

Situasi ekonomi menjadi semakin sulit karena nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menembus angka Rp 16.000 yang hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda kestabilan.

Perseroan pun dengan terpaksa mengambil langkah menutup rute penerbangan internasional dan domestik untuk sementara sampai mulai 1 April. Penerbangan rute domestik akan dihentikan sementara hingga 21 April 2020, sementara itu rute internasional dihentikan sementara sampai 17 Mei 2020.

“Kebijakan tersebut tentu saja akan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja operasional dan keuangan Perseroan di semester I tahun 2020 ini,” jelas Indah.

Kondisi pandemi ini juga memaksa perseroan harus menunda beberapa aksi korporasi yang sedang direncanakan dalam rangka meningkatkan kepemilikan saham publik di BEI sampai situasi membaik dan kinerja operasional perseroan bisa berjalan dengan normal kembali.

Jumlah kepemilikan publik pada AirAsia Indonesia tidak memenuhi batas minimal yaitu 7,5%. Saat ini, jumlah saham publik hanya 1,59%. Selebihnya adalah 49,16% milik PT Fersindo Nusaperksa dan 49,25% milik AirAsia Investment Ltd. (mm3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here