Berburu Capital Gain di Tengah Penurunan IHSG

0
Ilustrasi pasar saham (Pasardana)

Jakarta, Marketmover – Masih ada peluang capital gain di tengah penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG). Oleh sebab itu, investor jangan panik jika masuk dalam jebakan pasar (swing trap) sesaat.

Vier Abdul Jamal, trader saham senior, menjelaskan, enam bulan lalu, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai membentuk pola symetrical triangle, sehingga mulai downtrend dan akan terkoreksi cukup dalam, bahkan cenderung crash.

Prediksi ini, kata dia, terbukti. Sepanjang tahun ini, IHSG turun 26,6% ke level 4.623. Bahkan, indeks sempat menyentuh level terendah 3.911, seiring terus bertambahnya kasus korona (Covid-19) di Tanah Air.

Dia mencatat, kalau melihat moving average (MA) 15 atau garis pergerakan rata–rata 15 hari, yakni level 4.892 pada 20 Maret 2020, gap level IHSG masih cukup besar. Artinya, pelemahan masih akan berlangsung.

“IHSG baru mampu pullback, jika berhasil mengejar MA15 dan melakukan golden cross dan membentuk garis exponential moving average (EMA). Selanjutnya, indeks akan reli dengan sendirinya,” kata dia di Jakarta, belum lama ini.

Dia menuturkan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah gap. IHSG mulai melemah dan gagal melakukan closing gap di level 5.716 dan tiga kali berturut–turut membentuk open gap pada 6 Maret di level 5.576, lalu 9 Maret di level 5.365 dan 12 Maret kembali membentuk open gap di level 5.041. Kegagalan dalam opening gap selama tiga hari inilah yang menyebabkan pasar semakin panik dan melakukan aksi jual membabi buta.

“Sebagai stock trader, Anda boleh mencatat technical rebound IHSG dalam tiga langkah. Indeks berturut–turut yang akan dikejar naik adalah level 5.264, 5.578, dan 5.716, lalu kembali closing the gap 6.000,” tegas dia.

Saat ini, dia menuturkan, IHSG sudah masuk area oversold, sehingga investor sudah mulai bisa mengkoleksi saham–saham blue chip yang turun cukup dalam. Akumulasi sedikit–sedikit sampai signal false rebound hilang dan benar–benar breakout.

“Jangan takut dengan propaganda psikologis, karena itulah seninya pasar saham,” tegas Vier. (mm2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here