Covid-19 Merajalela, Indika Diversifikasi Usaha

0
Indika Energy (foto: istimewa)

Jakarta, Marketmover – PT Indika Energy Tbk (Indika) mengaku kondisi dunia saat ini memasuki periode yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni mencuatnya penyebaran virus korona (Covid-19). Perekonomian global kemungkinan sangat fluktuatif tahun ini, termasuk juga permintaan komoditas seperti batubara.

“Kami telah mengambil langkah untuk mulai melakukan diversifikasi ke bisnis non-batubara,” tulis manajemen Indika dalam Annual Report 2019, yang dilansir perseroan, baru-baru ini.

Lalu, perseroan juga telah mengambil langkah meningkatkan efisiensi dan produktivitas pada kepemilikan inti batu bara, dengan rencana menerapkan proyek transformasi digital yang telah berhasil di Petrosea ke seluruh operasi Kideco.

Manajemen Indika melihat, dengan ancaman virus korona yang membayangi dunia, pelambatan ekonomi global akan berlanjut pada 2020. Karena bisnis batu bara dan yang terkait masih menjadi mayoritas portofolio Indika, kinerja perseroan kemungkinan akan terpengaruh tahun ini. Karena itu, tujuan dari diversifikasi yang dimulai sejak 2019 adalah untuk mengurangi ketergantungan dari satu komoditas dan juga mencari sumber pertumbuhan baru.

Pada 2019, pendapatan Indika turun sekitar 6,1% dibandingkan 2018, yakni dari US$ 2,96 miliar menjadi US$ 2,78 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan ASP Kideco dari US$ 52,9 /ton pada 2018 menjadi US$ 45,1 /ton pada 2019. Penurunan kontribusi pendapatan dari Kideco dikompensasikan sebagian oleh Pendapatan Tripatra yang lebih tinggi.

Laba kotor Indika turun 33,5% dari US$ 641,2 juta menjadi US$ 426,7 juta yang dilaporkan pada 2019 karena perubahan bauran produk grup.

Kideco, yang memberikan kontribusi 60,8% terhadap pendapatan konsolidasi dengan marjin laba 27,3% pada 2018, telah menurunkan kontribusinya menjadi 56,6% pada 2019, dengan margin laba 15,8%.

Kontribusi pendapatan Tripatra meningkat dari 9,4% pada 2018 menjadi 14,9% pada 2019, dengan marjin laba masing-masing 15,0% dan 8,1%.

Tahun 2019, Indika harus puas membukukan kerugian bersih US$ 18,16 juta. Setahun sebelumnya, emiten berkode saham INDY ini mengantongi laba bersih US$ 80,06 juta.

Per 31 Desember 2019, pemegang saham Indika terdiri atas 37,79%, PT Teladan Resources 30,65%, Eddy Junaedy Danu 1,66%, Agus Lasmono 0,19%, dan Indracahya Basuki 0,03%. Lalu, M. Arsjad Rasjid P.M. 0,02%, Azis Armand 0,02%, Richard Bruce Ness 0,02%, PT Indika Mitra Holdiko 0,00%, dan masyarakat (masing-masing di bawah 5%) 29,62%.

Sementara itu, INDY ditutup menguat 4,32% pada perdagangan Rabu (1/4/2020), yakni dari Rp 695 menjadi Rp 725. Sepanjang 2 Januari-1 April 2020, INDY terpangkas 39,33%, yaitu dari Rp 1.195 menjadi Rp 725. (mm1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here