Takut Kredit Macet, BRI Dikangkangi BNI Dkk

0
Ilustrasi BRI (bri.co.id)

Jakarta, Marketmover – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) hanya membukukan pertumbuhan laba bersih 2% menjadi Rp 5,2 triliun per Februari 2020, dikangkangi para pesaingnya, terutama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), yang mencetak lonjakan laba bersih 18% menjadi Rp 2,6 triliun.

Sementara itu, kenaikan provisi BRI yang berkode saham (BBRI) terbesar di antara jajaran bank-bank besar di Tanah Air. Per Februari 2020, provisi BRI melonjak 85% menjadi Rp 5,2 triliun. Hal ini disebabkan mulai naiknya kredit dalam pengawasan khusus (special mention loan/SML). Status kredit semacam ini rentan diturunkan ke kredit macet (nonperforming loan/NPL).

Dalam laporan riset Indo Premier, belum lama ini, disebutkan, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencetak kenaikan laba bersih 13% menjadi Rp 4,7 triliun per Februari lalu, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melesat 14% menjadi Rp 4,3 triliun, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) tumbuh 13% menjadi Rp 282 miliar.

Pendapatan bunga (interest income/NII) BRI sebenarnya tertinggi dibandingkan empat bank lainnya, yakni 11% menjadi Rp 20,2 triliun per Februari lalu, sedangkan Mndiri hanya 7%, BCA 8%, BNI 5%, dan BTN 2%.

Namun, pertumbuhan pendapatan bunga bersih tertinggi (net interest income/NII) digenggam BNI sebesar 16% menjadi Rp 5,9 triliun, sedangkan BRI di posisi kedua sebesar 13% menjadi Rp 13,9 triliun, BCA 12% menjadi Rp 8,2 triliun, Mandiri 6%, dan BTN 4%.

BRI unggul di sisi pendapatan nonbunga, yakni melonjak 73% menjadi Rp 5,3 triliun, sedangkan Mandiri 35%, BNI 26%, BCA 15%, dan BTN ambles 25%.

Kenaikan total pendapatan tertinggi dipegang BRI, sebesar 25% menjadi Rp 19,3 triliun, diikuti BNI 19%, Mandiri 14%, BCA 13%, dan BTN turun 2%. Pertumbuhan laba sebelum provisi BRI juga tertinggi, yakni 27% menjadi Rp 11,7 triliun, sedangkan rivalnya BNI hanya 25%, BCA 18%, Mandiri 7%, dan BTN turun 8%.

Namun, provisi BRI tumbuh paling tinggi, yakni 85%, sedangkan BCA 71%, BNI 24%, Mandiri turun 14%, dan BTN turun 6%. Alhasil, pertumbuhan laba bersih BRI terendah dibandingkan empat bank lain.

“Dari diskusi kami dengan para bankir, mereka melihat ada kenaikan SML sepanjang tahun ini. Itu sebabnya, kami melihat provisi bakal terus meningkat, kendati NPL diprediksi tak naik tajam, karena adanya restrukrisasi,” tulis Indo Premier.

Indo Premier memprediksi laba bersih bank yang diriset tumbuh 15% sepanjang tahun ini. (mm2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here