2019, Ekspor Impor Alat Berat Turun 40,89%

0
PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (supplychainindonesia.com)

Jakarta, Marketmover – Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk, Ade Hartono mengungkapkan, arus bongkar muat untuk jenis alat berat di terminal internasional pada 2019 mengalami penurunan.

Namun, menurut Ade, pertumbuhan arus bongkar muat untuk Completely Built Up (CBU) internasional dan domestik yang masih tinggi mampu mensubsitusi penurunan dari segmen alat berat.

“Volume ekspor impor alat berat turun 40,89%. Namun, untuk ekspor impor CBU naik 18,44%, volume CBU domestik juga naik 115,58%. Jadi, karena porsi CBU paling besar terhadap pendapatan, kami masih membukukan kenaikan tipis pada pendapatan,” ungkap Ade dalam keterangan tertulis yang diterima Marketmover, Jumat (22/5/2020).

Sementara itu, beban pokok pendapatan sepanjang 2019 naik 12,41% menjadi Rp 305,58 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 271,84 miliar.

Kenaikan beban ini ditopang oleh sub beban tenaga kerja dengan total Rp 102,02 miliar atau naik 15,20% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 88,56 miliar. Kemudian, sub beban sewa sebesar Rp 77,87 miliar atau naik 1,11% dari sebelumnya sebesar Rp 77,01 miliar.

Lalu, sub beban kerja sama mitra usaha naik 18,35% dari Rp 64,28 miliar pada tahun sebelumnya menjadi Rp 76,07 miliar sepanjang 2019 dan sub beban lainnya.

Peningkatan cukup signifikan terjadi pada sub beban penyusutan yang naik 134,12% menjadi Rp 21,80 miliar sejalan dengan adanya penambahan aset untuk mendukung jalannya operasional.

Laba Lebih Rendah

Meski terjadi peningkatan beban namun, menurut Ade, perseroan tetap mampu mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp 135,30 miliar sepanjang 2019. Angka tersebut terlihat lebih rendah 20,50% dibandingkan perolehan 2018 sebesar Rp 170,19 miliar.

Begitupun dengan angka EBITDA yang terlihat lebih rendah 19,78% menjadi Rp 155,92 miliar dibandingkan Rp 194,37 miliar pada 2018. “Pada 2020 ini selain dari rencana pengembangan, di antaranya implementasi Automatic Gate System IPC Car Terminal, kerja sama dengan para PBM, tindak lanjut pengoperasioan Pelabuhan Patimban, dan lainnya kami juga sangat fokus untuk melakukan efisiensi pada biaya. Mulai tahun ini, kami sudah mulai menerapkan modul budget control di sistem keuangan, sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan akan tertata dengan baik,” tambah Ade.

Dalam perdagangan Kamis (20/5/2020), harga saham IPCC naik 1,92%, dari harga Rp 312 menuju Rp 318. Sebanyak 1,52 juta saham IPCC diperdagangkan 231 kali di Bursa Efek Indonesia senilai Rp 479,38 juta. (mm3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here