2020, Pendapatan Antam Terancam Turun 25,2%

0
PT Aneka Tambang Tbk (Foto Tempo.co)

Jakarta, Marketmover – Pendapatan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada 2020 terancam turun sebesar 25,2% year on year (YoY).

“Atau turun 21,6% dari perkiraan kami sebelumnya. Sebab, kami menyesuaikan volume penjualan dan asumsi harga pada segmen nikel, baik bijih nikel dan feronikel, dan volume penjualan emas yang lebih rendah karena produksi kilang emas yang lebih rendah di pabrik Pulogadung sebagai implementasi kebijakan PSBB, tetapi sedikit lebih tinggi pada asumsi harga emas,” jelas kata analis BNI Sekuritas, Firman Hidayat dalam laporan riset tentang Antam di Jakarta, belum lama ini.

Pada 2019, menurut Firman, Antam dengan kode saham ANTM membukukan pendapatan sebesar Rp 32,7 triliun, tumbuh sebesar 29,6% year on year (yoy). Namun, laba bersih turun 77,9% yoy menjadi Rp 193 miliar. Jumlah itu hanya 24,7% dan 22,7% terhadap target 2019.

Saat ini, kata Firman, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) telah meminta pemerintah untuk mengurangi ekspor bijih nikel untuk membantu mengimbangi dampak dari penurunan ekspor feronikel.

Menurut Asosiasi Smelter dan Pemrosesan Mineral Indonesia (ISPA), penyerapan pasar ekspor feronikel telah turun sekitar 25% year to date (ytd) karena pandemic Covid-19. Karena itu, konsumsi bijih nikel di smelter lokal telah turun tajam. Selanjutnya, masalah lain dari kebijakan larangan bijih nikel adalah harga.

Pemerintah menetapkan Harga Patokan Pemerintah (HPM) untuk bijih nikel domestik sebesar US$ 28 per ton tetapi berdasarkan penelusuran menunjukkan bahwa harga bijih nikel masih ditentukan oleh negosiasi antara pembeli dan penjual nikel dengan harga rata-rata yang ditetapkan sekitar US$ 21 per ton, sementara biaya produksi Antam US$ 18 per ton.

“Kondisi ini diperburuk oleh royalti bijih nikel yang harus dibayarkan oleh perusahaan pertambangan kepada pemerintah dengan merujuk HPM sebagai harga patokan,” jelas Firman.

Sementara itu, upaya Antam untuk meningkatkan margin adalah memadukan lebih banyak bijih nikel dengan kadar lebih rendah sampai kebijakan harga bijih nikel HPM diadopsi secara luas sebagai harga patokan wajib dalam semua transaksi domestik bijih nikel. Hal itu akan lebih terlihat untuk bisnis Antam ke depan.

Emas

Sementara itu, pendapatan emas cenderung meningkat tetapi margin tidak akan mengikuti. “Kami memperkirakan segmen emas berkontribusi paling besar terhadap pendapatan, secara total menyumbang 76,5% dari perkiraan 2020. Sebab, permintaan emas global dan harga cenderung tetap tinggi karena investor membeli tempat yang aman di tengah ketidakpastian yang timbul dari wabah Covid-19,” jelas Firman.

Namun, hal ini bukan berarti ada peningkatan margin. Sebab, pembelian emas dari pihak ketiga akan meningkatkan biaya dan mengikis margin. “Namun, kami pikir penjualan emas domestik memiliki margin yang jauh lebih baik daripada penjualan ekspor,” tutur Firman.

Dalam perdagangan Jumat (15/5/2020), harga saham ANTM naik 0,97% dari harga Rp 515 ke harga Rp 520. Antam memiliki kapitalisasi pasar Rp 12,50 triliun. (mm3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here