Ancaman Donald Trump Malah Tumbangkan Wall Street

0
Wall Street (Foto Pasar Dana)

Jakarta, Marketmover – Wall Street tumbang pada akhir perdagangan Sabtu (2/5/2020), dilanda aksi jual tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghidupkan kembali ancaman tarif baru terhadap China dalam menanggapi pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan ekonomi global terhenti.

Ketiga indeks utama saham AS ditutup jatuh lebih dari 2% dan untuk pekan ini mereka semua kehilangan posisi. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 622,03 poin (2,55%) menjadi 23.723,69 poin. Indeks S&P 500 terpangkas 81,72 poin (2,81%) menjadi 2.830,71 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 284,60 poin (3,20%) menjadi 8.604,95 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 ditutup di zona merah. Seperti dilansir Antara, Sabtu (2/5/2020), sektor energi yang anjlok 6% menjadi sektor berkinerja terburuk.

Awal Mei 2020 ditandai oleh aksi jual dengan kegelisahan meningkat karena beberapa negara bagian AS mulai melonggarkan penutupan virus corona.

“Pada April, kondisi pasar sangat kuat ketika mereka melihat stimulus akan menyalakan kembali pertumbuhan ekonomi,” kata David Carter, kepala investasi di Lenox Wealth Advisors di New York.

Memang, saham telah berjalan luar biasa pada April, dengan S&P 500 dan Dow keduanya membukukan kenaikan persentase bulanan terkuat mereka dalam 33 tahun.

Trump mengatakan, pemerintahannya sedang menyusun langkah-langkah pembalasan terhadap China sebagai hukuman untuk wabah virus corona, sekali lagi memicu kekhawatiran tarif yang mengguncang pasar selama dua tahun terakhir.

Trump menyalahkan China atas apa yang dia katakan sebagai informasi salah ketika virus itu muncul dari kota Wuhan di China dan kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.

Sejumlah laporan laba emiten beragam, terutama laporan mengecewakan dari Amazon.com, bersama dengan putaran baru data ekonomi suram, juga membebani sentimen.

Aktivitas manufaktur AS tergelincir ke level terendah 11 tahun bulan lalu ketika karantina wilayah menutup pabrik-pabrik, demikian menurut indeks manajer pembelian Institute for Supply Management.

Musim pelaporan keuangan perusahaan telah melewati titik tengah, dengan 275 perusahaan di S&P 500 melaporkan hasil kuartalan. Dari mereka, 68% telah mengalahkan perkiraan konsensus.

Secara agregat, laba perusahaan-perusahaan S&P 500 kuartal pertama terlihat turun 12,7% dari tahun lalu, pembalikan tajam dari perkiraan pertumbuhan tahunan 6,3% pada 1 Januari.

Tesla Inc jatuh 10,3% setelah Chief Executive perusahaan Elon Musk mengatakan dalam cuitan bahwa harga saham pembuat mobil listrik itu terlalu tinggi.

Saham Amazon.com merosot 7,6% setelah pengecer daring memperingatkan biaya terkait pandemi dapat menyebabkan kerugian kuartalan pertama dalam lima tahun.

Hasil kuartalan Apple Inc mengalahkan ekspektasi, tetapi pembuat iPhone itu menolak untuk memberikan perkiraan kuartal saat ini. Sahamnya anjlok 1,6%.

Exxon Mobil jatuh 7,2% setelah perusahaan melaporkan penurunan laba karena penurunan besar-besaran US$ 3 miliar akibat anjloknya permintaan dan harga minyak.

Rivalnya, Chevron Corp membukukan kenaikan laba 38%, didorong oleh penjualan aset, dan memangkas rencana pengeluaran. Sahamnya melemah 2,8%.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 10,17 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 12,19 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir. (mm3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here