PSBB Berkepanjangan, Rating Jasa Marga Berpotensi Turun

0
Jalan tol dalam kota Jakarta (foto: marketmover.id)

Jakarta, Marketmover – Peringkat (rating) korporasi dan obligasi PT Jasa Marga Tbk (JSMR) berpotensi diturunkan jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlanjut hingga paruh kedua 2020. Di sisi lain, sejumlah ruas tol yang “gemuk”  milik Jasa Marga berada di wilayah yang diterapkan PSBB, yakni di Jakarta dan sekitarnya.

“Peringkat akan diturunkan jika PSBB berlanjut hingga paruh kedua tahun ini yang berakibat pada penurunan jalan tol yang jauh lebih rendah dari yang diharapkan,” papar manajemen PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), dalam siaran pers, di Jakarta, baru-baru ini.

Penurunan juga dapat terjadi bila Jasa Marga tidak berhasil memperoleh tambahan fasilitas pinjaman untuk mengatasi risiko pembiayaan atau, jika struktur permodalan Jasa Marga yang lebih agresif tidak diimbangi dengan peningkatan kinerja bisnis, yang dapat melemahkan proteksi arus kasnya.

Terpisah, M Agus Setiawan, corporate secretary PT Jasa Marga Tbk, dalam keterbukaan informasinya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (15/5/2020) mengumumkan bahwa Pefindo memberi rating idAA- untuk Jasa Marga. Rating itu untuk periode 11 Mei 2020 sampai dengan 1 Mei 2021. Lalu, rating Obligasi XIV Seri JM-10 Tahun 2010 menjadi idAA- untuk rentang 11 Mei 2020 sampai dengan 12 Oktober 2020.

Menurut Pefindo, semula posisi rating untuk kedua posisi itu berada di level idAA. Outlook atas peringkat Jasa Marga itu adalah stabil. Penurunan peringkat mencerminkan tingkat leverage finansial Jasa Marga yang meningkat dengan rasio utang terhadap EBITDA lebih dari 8x dari penambahan utang sebesar lebih dari Rp 10 triliun pada entitas anak untuk membiayai penyelesaian proyek jalan tol. Lalu, potensi utang yang lebih tinggi pada entitas induk untuk menjaga likuiditas selama pandemi Covid-19. Sedangkan arus kas yang dihasilkan lebih rendah dengan penundaan penyesuaian tarif dan pendapatan jalan tol harian yang menurun sejak pertengahan Maret 2020 sebagai dampak dari kebijakan PSBB di beberapa area untuk memitigasi penyebaran pandemi.

“Kami menetapkan outlook stabil karena kami berpendapat walaupun masih ada ketidakpastian kapan pandemi ini akan berakhir, sektor jalan tol akan pulih lebih cepat dibandingkan dengan sektor infrastruktur transportasi lainnya,” urai manajemen Pefindo.

Pefindo juga berpendapat bahwa fleksibilitas finansial Jasa Marga yang kuat tercermin dari hubungan yang baik dengan bank. Selain itu, rekam jejak yang baik dalam memenuhi kewajiban finansialnya akan mengatasi risiko refinancing untuk obligasi yang akan jatuh tempo sebesar Rp1 triliun pada Oktober 2020 dan Rp 4 triliun pada Desember 2020.

Menurut Pefindo, obligor dengan peringkat idAA memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi yang diberikan, dan memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang relatif dibandingkan terhadap obligor Indonesia lainnya. Tanda kurang (-) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan di bawah rata-rata kategori yang bersangkutan.

Peringkat saat ini, kata Pefindo, mencerminkan dukungan yang kuat dari pemerintah untuk menyelesaikan proyek jalan tol, posisi dominan Jasa Marga di dalam industri jalan tol, portofolio jalan tol yang terdiversifikasi dengan periode konsesi yang panjang, dan fleksibilitas keuangan yang kuat.

“Namun, peringkat dibatasi oleh struktur permodalan yang lebih agresif dalam jangka pendek dan menengah dan risiko bisnis terkait dengan pembangunan ruas tol baru,” kata Pefindo.

Pefindo menguraikan, peringkat akan dinaikkan jika perusahaan memperbaiki struktur permodalan dengan mengurangi utang. Lalu, jika jalan tol baru beroperasi dengan lancar sesuai jadwal dan terbukti secara konsisten menarik volume arus lalu lintas tinggi seperti yang diproyeksikan. “Atau jika kami melihat ada dukungan dari pemerintah yang lebih kuat,” papar Pefindo.  (mm1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here